Melawan Godaan dan Cobaan

Diantara kita tidak banyak yang pernah melihat dan mengalami tinggal di padang gurun. Namun kita semua pasti pernah mengalami ‘padang guru’ dalam hidup kita. Seperti apa yang tertulis dalam injil hari ini Markus menulis yesus tinggal di padang gurun selama 40 hari dan berpuasa di padang gurun dan dicobai iblis. Situasi padang gurun sunyi tak ada pemandangan yang menarik selain pasir. Pada waktu siang panas luar biasa dan malam hari dingin menggigil; binatang-binatang liar berkeliaran. Situasi ini menggambarkan bahwa situasi padang gurun banyak godaan dan cobaan yang mengelilingi kita.

Yesus sendiri mengalami godaan iblis selama berpuasa 40 hari di padang gurun. Dalam hidup ini kita tak mungkin luput dari cobaan dan godaan. Dalam injil Markus tidak digambarkan secara rinci tiga godaan yang dialami Yesus. Tapi dengan jelas Markus menulis bahwa Yesus digoda iblis. Tiga godaan yang ditulis pada oleh penginjil lain: pertama berhubungan dengan perut – kekayaan – kenikmatan. Kedua yang menyangkut kehormatan – gila hormat; dan yang ketiga nafsu untuk menguasai – gila kuasa. Dalam jaman kini, godaan-godaan dan cobaan selalu bersumber pada ketiga godaan tersebut; yang dialami oleh Yesus di padang gurun. Setiap hari kita dikelilingi godaan-godaan baik yang kurang kita sadari ataupun yang kita sadari memperdayakan hidup kita. “Bagaimana kita bisa menolaknya?” Yesus sendiri telah mengalami banyak godaan-godaan yang dengan tegas menolak, dalam doa dan puasa janganlah kita mulai mencoba-coba dan tawar menawar dalam godaan-godaan.

Seringkali kita tidak bisa menghindari godaan-godaan,maka jadikanlah godaan-godaan, maka jadikanlah godaan-godaan sebagai jalan agar kita kuat dan tahan uji dalam menghadapi godaan. Yesus mengalami godaan-godaan bukan hanya pada waktu berpuasa di padang gurun, tetapi juga disaat berkarya. Agar Yesus teteap setia pada perutusan Bapa-Nya dan tak jatuh dalam godaan Yesus tetap berelasi dengan Bapa-Nya dalam hidup kesehariaan-Nya. Godaan selalu membelokkan arah hidup kita kepada kehendak Allah ke ego sendiri.

Pada masa prapaskah inilah kesempatan kita diajak untuk bertobat, kembali mengarahkan hidup kita kepada Bapa apa yang menjadi kehendak-Nya. Masa pertobatan ini hendaknya mendorong kita untuk lebih banyak berdoa, menerima sakramen-sakramen dan perhatian kepada saudara/i yang memerlukan bantuan lewat APP. Inilah wujud nyata dari masa pertobatan dan puasa kita. Berbagi dengan sesama kita apapun yang kita miliki sebagai pemberian Tuhan. Amin.

(Sr. Euphrasia, MASF)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *