Hari Rabu Abu

Tanggal 14 Februari 2018 adalah hari pertama dalam perayaan prapaskah yang disebut juga Hari Rabu Abu. Pada hari ini liturgi Gereja ditandai dengan penerimaan abu pada dahi dengan kata-kata pengingat: “Manusia berasal dari debu dan akan kembali kepada debu”; atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Dan sejak hari ini, dimulailah masa retreet agung 40 hari, yang ditandai dengan penekanan akan perlunya berdoa, berpuasa dan memberi sedekah. Hal yang tidak kalah pentingnnya adalah membangun sikap tobat dan menyempatkan diri untuk berdamai dengan Gereja dan Tuhan melalui penerimaan sakramen Tobat (Pengakuan Dosa).

Secara praktis Gereja mengajak kita untuk berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah. Nah, kalau kita berdoa, nasehat Yesus ialah: “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi!” bila berpuasa, Yesus mengatakan: “Kalau berpuasa janganlah muram mukamu, supaya orang tahu, bahwa kamu baru berpuasa. Sebab Bapamu di tempat tersembunyi sudah melihat itu”. Jikalau mau berderma atau memberi sedekah, Yesus mengingatkan: “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi”. Nah, dengan berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah khususnya selama masa puasa ini, kita sebenarnya diajak memurnikan hidup kita. Rasa dan kepekaan hati kita dibangunkan kembali. Masa depan kita harus dapat kita lihat, kita perhitungkan, dan kita tanggapi dengan lebih jernih dan pasti.

Makna puasa kegerejaan bertujuan membentuk suatu sikap rohani/batin fundamental, yakni: hormat kepada Allah, pengakuan jujur atas dosa-dosa yang dilakukan, pertentangan melawan keinginan daging, keprihatinan dan solidaritas dengan kaum miskin. Contoh kepalsuan suatu pengertian tentang puasa terdapat misalnya dalam cerita Injil Lukas. Pada waktu berdoa seorang Farisi berkata: “Ya, Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain. Aku berpuasa dalam dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk 18:11-12).

“Ada tiga hal yang membuat semangat iman teguh, semangat bakti bertahan dan keutamaan berlangsung: doa, puasa dan amal,” kata santo Petrus Krisologus. Maka yang berdoa, harus juga berpuasa; dan yang berpuasa harus juga berbuat amal. Barangsiapa ingin didengarkan, kalau ia meminta sesuatu, harus mendengarkan orang lain juga yang datang memintanya. Barangsiapa tidak menutup telingannya terhadap orang yang mohon, ia membuka telinga Tuhan bagi dirinya sendiri. Orang yang berpuasa harus menyadari apa arti puasa. Kalau orang ingin agar Tuhan melihat, bahwa ia lapar, ia sendiri harus memperhatikan orang yang lapar. Kalau iamengharpkan amal, ia sendiri harus berbuat amal. Kalau ia menginginkan cinta kasih Bapa , ia harus menunjukkan cinta itu lebih dulu, kalau orang menginginkan orang lain berkorban bagi dirinya, ia sendiri harus berkorban.

Masa retret agung 40 hari adalah masa untuk “bertindak”: memperbanyak doa, menggandakan puasa dan mengerjakan amal kasih, sembari tidak lupa membangun hubungan baik dengan Tuhan dan sesama dengan menerima sakramen tobat. Masa ini disiapkakn Gereja untuk kita agar kita bertobat dan berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama kita. Selamat berpuasa, selamat berpantang dan selamat beramal kasih. Gandakan doa untuk bertobatnya orang-orang yang hidupnya menjauh dari Tuhan.

(AMDG, Gabriel)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *